Merawat Identitas Suku Tolaki di Tengah Modernisasi: Sekolah Kader Kalosara Hadirkan Regenerasi Pelestari Adat

KONAWE, RAGAM382 Dilihat

TELUSURSULTRA.COM, KONAWE – Di tengah derasnya arus modernisasi, sekelompok pelajar dari berbagai kecamatan di Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) berkumpul dengan satu tujuan yaitu mempelajari kembali akar budaya mereka. 

Mereka adalah peserta Sekolah Kader Kalosara Tahun 2025, sebuah ruang belajar yang dirancang khusus untuk menanamkan kembali pemahaman tentang Kalosara, simbol sekaligus sistem adat masyarakat Tolaki yang telah hidup ratusan tahun.

Program yang digelar di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Konawe pada Selasa (9/12/2025) itu bukan sekadar pelatihan biasa. Ia menjadi upaya serius pemerintah daerah merawat identitas, membangun generasi penerus, dan menjaga keberlanjutan nilai-nilai adat di tengah perubahan zaman.

Kepala Bidang Kebudayaan Dikbud Konawe, Andang Masnur menyebut kegiatan ini berangkat dari kesadaran bahwa budaya tidak akan hidup tanpa pewaris. Sejak bekerjasama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX Makassar, program ini dirancang sebagai agenda tahunan, dan kini memasuki tahun keduanya dengan melibatkan 50 siswa dari beragam latar belakang.

Bagi Andang, Kalosara bukan sekadar benda adat berbentuk lingkaran anyaman rotan yang kerap dipamerkan di ruang seremoni. Lebih dari itu, Kalosara adalah mekanisme penyelesaian konflik, sumber nilai etika, dan pedoman hidup masyarakat suku Tolaki jauh sebelum hukum positif dikenal.



“Kalosara bukan sekadar simbol, tetapi mekanisme adat yang teruji dalam menjaga keseimbangan dan harmoni masyarakat. Edukasi tentang kesakralan dan fungsinya harus terus diwariskan,” ujarnya.

Menariknya, Sekolah Kader Kalosara tidak hanya diikuti pelajar keturunan Tolaki. Program ini dibuka untuk semua etnis sebagai wujud inklusivitas budaya, sekaligus upaya menumbuhkan pemahaman lintas identitas di daerah yang dihuni masyarakat majemuk.

Di ruang pelatihan, interaksi antar peserta terlihat hidup setiap kali para maestro adat dan budayawan membuka sesi dialog. Mulai dari sejarah Kalosara, makna filosofisnya, tata cara dalam pelaksanaan adat, hingga nilai-nilai moral yang menyertainya. Semua dikupas secara komprehensif dan aplikatif.

“Yang kami inginkan bukan hanya peserta paham teori, tetapi mampu menghayati dan mempraktikkan nilai adat dalam kehidupan sehari-hari,” kata salah satu narasumber yang juga praktisi adat Tolaki.

Upaya regenerasi ini semakin penting mengingat dua tradisi besar Tolaki telah mendapat pengakuan nasional. Kalosara ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) sejak 2011, disusul prosesi adat pernikahan Mowindahako yang masuk daftar WBTb pada 2024.

Pengakuan tersebut menjadi pengingat bahwa tradisi Tolaki tidak hanya berharga bagi masyarakat pemiliknya, tetapi juga menjadi bagian dari mozaik keberagaman budaya Nusantara.

Selama pelatihan berlangsung, suasana antusias kerap terpancar dari para peserta, mulai dari sesi ceramah, praktik lapangan, hingga diskusi mengenai tantangan merawat budaya di era digital.

Pemerintah berharap para lulusan Sekolah Kader Kalosara mampu menjadi agen budaya yang tangguh. Mereka bukan hanya menghidupkan nilai-nilai adat di ruang seremoni, tetapi juga membawa etika dan filosofi Kalosara ke dalam kehidupan sosial yang terus berubah.

Di tengah dunia yang semakin modern, mereka adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan. Generasi yang menjaga agar identitas Tolaki tetap hidup dan relevan bagi Konawe hari ini maupun esok. (REDAKSI)